Garut – Minggu, 20 Juli 2025 – Belum pupus senyuman para penari jaipong yang tengah menari di panggung utama, belum juga padam lampu hias warna-warni yang dipasang sejak tiga hari lalu, kabar duka tiba-tiba mencekal udara. Tiga nyawa—seorang anak perempuan berusia delapan tahun, seorang nenek berusia enam puluh satu tahun, dan seorang anggota polisi—menghembuskan napas terakhir di halaman Pendopo Kabupaten Garut, Jumat (18/7) pukul 13.00 WIB. Mereka tewas terinjak saat ribuan warga berdesak-desakan untuk mendapatkan makanan gratis yang dibagikan sebagai bagian dari pesta pernikahan anak Gubernur Jawa Barat.
Acara berlabel “Pesta Rakyat” ini digelar untuk memeriahkan pernikahan Maula Akbar Mulyadi Putra dan Luthfianisa Putri Karlina. Panitia menyiapkan 5.000 paket nasi goreng, 3.000 porsi sate kambing, dan 8.000 botol air mineral untuk dibagikan gratis kepada siapa pun yang datang. Tak disangka, undangan tak bertuliskan nama itu menyebar ke seluruh penjuru kota—mulai dari obrolan warung kopi hingga grup WhatsApp tetangga—hingga membludak lebih dari 20.000 orang yang memadati Alun-Alun Otto Iskandar Dinata.
Ketika pintu gerbang utama dibuka pukul 12.55 WIB, massa yang sudah menunggu sejak pagi tumpah ruah. “Saya hanya ingin bawa pulang lauk buat cucu,” ujar salah satu saksi mata, Yayah (54), yang kehilangan suaminya dalam kerumunan. Dalam waktu empat menit, terjadi kepanikan massal. Suara teriakan berganti tangisan, sandal dan piring berserakan, serta helm polisi yang pecah berkeping-keping di tengah amukan manusia.
Ketiga korban tewas adalah: Vania Aprilia (8) warga Sukamentri, Garut Kota; Dewi Jubaedah (61) warga Kecamatan Tarogong Kidul; dan Bripka Cecep Saeful Bahri (39) anggota Polres Garut yang sedang mengevakuasi warga. Selain itu, 26 orang mengalami luka ringan hingga berat dan dilarikan ke RSUD dr. Slamet Garut.
Bupati Garut, Rudy Gunawan, langsung membatalkan sisa rangkaian acara. “Kami menanggung semua biaya pengobatan dan memberikan santunan kepada keluarga korban,” tegasnya. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyatakan prihatin mendalam dan mempersilakan Polri menyelidiki kemungkinan unsur kelalaian panitia. “Ini adalah pelajaran berharga bagi kita semua,” tambahnya.
Di tengah duka, muncul tudingan bahwa sistem antrean yang primitif dan penaksiran jumlah massa yang buruk menjadi biang keladi. “Kalau masyarakat rela mati untuk sepiring nasi, ini bukan sekadar soal lapar perut, tapi lapar harapan,” kata Prof. Sunartini Widya dari Universitas Padjadjaran. Ia menekankan perlunya tim kesehatan mental dan manajemen kerumunan di setiap acara publik berskala besar.
Malam ini, di halaman pendopo yang kini terkunci rapat, tiga lilin dinyalakan. Di sekelilingnya, bunga kertas putih membentuk angka “3”. Warga berdatangan membawa karangan bunga dan doa, berharap tragedi ini menjadi yang terakhir. Di kejauhan, denting bedug magrib berkumandang, mengingatkan bahwa matahari akan terbit kembali—tapi tiga nyawa tak akan pernah kembali. (*)





























