instagram youtube
logo

Beras Oplosan: Penipuan Sistemik yang Mengancam Konsumen dan Ekonomi Nasional

BONGKAR TERKINI

- Redaksi

Kamis, 24 Juli 2025 - 07:40 WIB

50252 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA | Isu beras oplosan yang selama ini hanya menjadi bisik-bisik di pasar kini telah mencuat menjadi masalah nasional yang tak bisa lagi diabaikan. Pemerintah, lewat Kementerian Pertanian, bersama aparat penegak hukum melakukan pengungkapan besar-besaran atas praktik curang yang terjadi di balik kemasan beras premium yang selama ini diklaim berkualitas tinggi. Dari investigasi menyeluruh di sepuluh provinsi dan pengujian ratusan merek beras di 13 laboratorium, terkuak fakta mengejutkan: lebih dari delapan puluh lima persen beras premium yang beredar tidak memenuhi standar mutu, bahkan ratusan merek terbukti melakukan pengoplosan dan pengurangan takaran secara sistematis. Fenomena ini bukan sekadar pelanggaran administratif, melainkan tindakan kriminal yang mencuri hak konsumen dan merugikan ekonomi negara hingga triliunan rupiah per tahun.

Data yang dirilis dalam rapat kerja bersama Komisi IV DPR RI memperlihatkan bagaimana paradoks harga beras di tingkat petani dan pasar. Harga di tingkat petani menurun drastis, seolah petani dijebak dalam pusaran kerugian, sementara di pasaran harga beras justru meroket tanpa alasan yang masuk akal. Kementerian Pertanian mengungkap bahwa dari 268 merek beras yang diuji, sebanyak 212 di antaranya melanggar aturan dengan modus operandi yang tidak kalah licik: mulai dari mencampur beras kualitas rendah ke dalam beras premium, mengurangi takaran dalam kemasan, hingga menjual di atas harga eceran tertinggi yang sudah ditetapkan pemerintah. Praktik-praktik ini bukan hanya menipu konsumen, tetapi juga merusak kepercayaan publik terhadap produk lokal.

Tidak hanya itu, pengungkapan di lapangan menunjukkan modus yang lebih kejam: produsen beras sengaja menurunkan mutu beras dengan menaikkan kadar beras patah atau broken rice melebihi batas yang diizinkan, untuk menekan biaya produksi dan mempertahankan margin keuntungan. Akibatnya, beras premium yang seharusnya berkualitas tinggi, kini berubah menjadi produk murahan yang hanya menipu mata konsumen dengan kemasan yang mewah. Di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur, yang menjadi pusat perdagangan beras terbesar di ibu kota, pedagang menyebut praktik ini sebagai “beras turun mutu,” bukan sekadar oplosan. Mereka menjelaskan bagaimana tekanan harga dan biaya produksi yang melonjak membuat produsen memilih jalan pintas dengan merusak kualitas produk demi keuntungan sesaat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, secara tegas mengecam praktik curang ini dan memerintahkan Jaksa Agung serta Kapolri untuk mengusut tuntas kasus ini tanpa kompromi. Presiden menegaskan bahwa pengoplosan beras adalah tindak pidana serius yang harus ditindak keras agar memberikan efek jera bagi pelaku. Kerugian negara yang mencapai ratusan triliun rupiah setiap tahun bukanlah angka main-main, melainkan cerminan betapa besarnya skala penipuan ini. Menindaklanjuti instruksi Presiden, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memastikan penyelidikan dan penindakan akan berjalan cepat dan tegas, demi melindungi konsumen dan menjaga kestabilan pangan nasional.

Kejahatan terhadap konsumen ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Masyarakat yang selama ini mengandalkan beras sebagai bahan pokok kini harus waspada dan cerdas dalam memilih produk. Pemerintah harus menunjukkan komitmen nyata untuk memberantas praktik curang yang merusak ekonomi rakyat kecil dan petani. Penegakan hukum yang kuat dan transparan harus menjadi prioritas agar kasus serupa tidak terulang. Selain itu, pengawasan ketat di seluruh rantai distribusi beras harus diterapkan agar produk yang beredar benar-benar sesuai dengan standar yang ditetapkan. Konsumen berhak mendapatkan produk yang jujur, berkualitas, dan harga yang wajar.

Kasus beras oplosan ini membuka mata semua pihak tentang betapa rapuhnya sistem pengawasan pangan nasional ketika dikelabui oleh oknum-oknum yang mengutamakan keuntungan pribadi di atas kepentingan rakyat. Ini bukan hanya soal beras, tetapi soal keadilan, integritas, dan tanggung jawab sosial. Jika pemerintah dan aparat penegak hukum gagal mengambil tindakan tegas, maka kerugian yang dialami masyarakat akan semakin meluas, dan kepercayaan publik terhadap produk dalam negeri akan hancur berkeping-keping. Waktunya bertindak sekarang, bukan besok atau lusa. (*)

Berita Terkait

Gerakan Moral “CADIKA” Menggema: Desak Penyelamatan Ruang Karakter Generasi Bangsa di Gowa
Cetak Sejarah Baru, Keisha Ratu Utami Jadi Wakil Paskibraka Nasional Pertama dari Jeneponto
Mencetak Generasi Qurani, 477 Santri BKPRMI Takalar Resmi Wisuda di Pantai Topejawa
Sinergi Lintas Sektor: Aksi Resik Pulau Sanrobengi Demi Masa Depan Wisata Bahari Takalar
Wakil Bupati Takalar, Hengky Yasin, secara resmi membuka Webinar Nasional bertajuk “Qurban Syar’i Dan Sehat”
Dody Riyan Saputra Tegaskan Komitmen Majukan Pendidikan dan Budaya di Takalar
Selamatkan Bumi Perkemahan Cadika Gowa: Seruan Lintas Generasi Pertahankan Warisan Pendidikan Karakter
Sinergi Pemkab dan Forkopimda Takalar Jamin Stabilitas Harga Pangan Menjelang Idul Adha 1447 H

Berita Terkait

Minggu, 24 Mei 2026 - 14:13 WIB

Mencetak Generasi Qurani, 477 Santri BKPRMI Takalar Resmi Wisuda di Pantai Topejawa

Sabtu, 23 Mei 2026 - 14:38 WIB

Dody Riyan Saputra Tegaskan Komitmen Majukan Pendidikan dan Budaya di Takalar

Rabu, 20 Mei 2026 - 08:23 WIB

Waspada Modus Penipuan KUR, BRI Tegaskan Pengajuan Tidak Ditawarkan Lewat Link Online

Selasa, 19 Mei 2026 - 11:48 WIB

Darurat Sosial: KUA Pattallassang Gandeng Lintas Sektor Tekan Angka Perceraian dan Kriminalitas Anak di Takalar

Sabtu, 9 Mei 2026 - 22:13 WIB

Syafri Havid, Empat Dekade Pengabdian Berbuah Amanah

Kamis, 7 Mei 2026 - 20:15 WIB

Muh Syafri Havid terpilih Secara mufakat Untuk memimpin organisasi FKPPI Periode 2026 – 2031 di Kab Takalar.

Kamis, 7 Mei 2026 - 19:23 WIB

Keluarga Tahanan Fanny Ismail Terima Kematian Dengan Ikhlas, Lapas Labuhan Ruku Bantah Pemberitaan Negatif

Kamis, 7 Mei 2026 - 03:29 WIB

Dukung Kemandirian Warga Binaan, Ketua TP PKK Kabupaten Batu Bara Serahkan Alat Tenun di Lapas Labuhan Ruku

Berita Terbaru