Bongkarterkini.com, Takalar sulsel – Langit di Kecamatan Laikang, Kabupaten Takalar, provinsi Sulawesi Selatan, tampak seperti sedang menahan sesuatu-bukan hanya hujan, tetapi juga harapan yang kian menipis. Hari demi hari berlalu tanpa setetes air pun jatuh ke tanah yang mulai merekah hebat. Di tengah hamparan ladang yang menguning sebelum waktunya, para petani hanya bisa menengadah, menunggu mukjizat yang tak kunjung tiba di atas tanah yang kian membisu.
Bagi masyarakat perkotaan, kemarau mungkin hanyalah pergantian musim yang biasa disikapi dengan keluhan suhu udara. Namun bagi petani di kecamatan laikang kabupaten takalar, fenomena ini adalah pertaruhan hidup dan mati. Tanah yang biasanya menjadi sumber kehidupan kini berubah keras dan tandus; bibit yang ditanam dengan cucuran keringat layu sebelum berkembang, sementara jagung yang seharusnya berdiri tegak malah merunduk lemah seolah ikut merasakan keputusasaan pemiliknya.
Dampak krisis air ini jauh melampaui angka-angka statistik gagal panen. Ini adalah tentang dapur yang terancam tak lagi mengepul, anak-anak yang masa depannya dibayangi risiko putus sekolah, hingga jeratan utang modal tanam yang terus membengkak tanpa kepastian pelunasan. Setiap retakan di tanah Laikang saat ini adalah cermin dari retaknya harapan ribuan nyawa yang bergantung pada kemurahan alam dan kebijakan manusia.
Antara Alam dan Kelalaian Sistemik
Ironisnya, di tengah jeritan yang kian memilukan, kehadiran negara dan pemangku kepentingan seringkali datang terlambat, atau bahkan absen sama sekali. Petani Laikang seolah dibiarkan menghadapi amukan alam seorang diri, seakan posisi mereka bukan sebagai tulang punggung ketahanan pangan negeri. Bantuan yang dijanjikan kerap tersendat oleh birokrasi, dan solusi yang ditawarkan seringkali terasa jauh dari realitas fungsional di lapangan.
Pemerintah daerah memang dihadapkan pada tantangan iklim global yang tak menentu, namun ketidaksiapan infrastruktur menjadi catatan kritis yang tak bisa diabaikan. Jika irigasi hanya menjadi wacana di atas meja rapat tanpa realisasi di titik-titik kekeringan, maka kegagalan panen ini bukan lagi sekadar bencana alam, melainkan kegagalan manajemen krisis yang berdampak sistemik bagi kesejahteraan rakyat kecil.
Dibutuhkan lebih dari sekadar pernyataan empati atau kunjungan seremonial; yang diperlukan adalah aksi nyata yang terukur. Pembangunan sistem irigasi yang layak, penyediaan akses air bersih untuk pertanian secara darurat, serta kebijakan subsidi yang berpihak pada petani kecil harus menjadi prioritas utama. Kemarau memang tidak bisa dicegah oleh tangan manusia, tetapi dampak destruktifnya bisa diminimalkan jika ada keseriusan dalam mitigasi.
Jeritan yang Tak Terdengar
Di balik diamnya ladang-ladang yang mengering, ada jeritan yang tak terdengar dari mereka yang tangannya terbiasa mencangkul. Para petani tidak meminta kemewahan; mereka hanya ingin hujan turun tepat waktu dan hasil panen cukup untuk menyambung hidup keluarga. Namun, ketika langit tak kunjung memberi jawaban, muncul pertanyaan besar: kepada siapa lagi mereka harus menggantungkan harapan jika bukan kepada pemerintahnya?
Kondisi di kecamatan Laikang saat ini menjadi pengingat keras bahwa kedaulatan pangan tidak akan pernah tercapai jika para produsennya dibiarkan jatuh dalam kemiskinan akibat kekeringan. Pemerintah dituntut untuk tidak hanya menjadi pemadam kebakaran saat krisis terjadi, tetapi menjadi arsitek yang membangun ketahanan jangka panjang bagi wilayah-wilayah rentan seperti Takalar.
Saat hujan tak kunjung datang, yang benar-benar diuji bukan hanya kesabaran para petani, melainkan juga nurani dan komitmen kepemimpinan kita semua. Kelalaian dalam menangani krisis di Laikang bukan hanya kerugian bagi satu kecamatan saja—ketika petani tumbang, stabilitas pangan kita semua dipertaruhkan. Sebelum tanah benar-benar mati, kehadiran solusi nyata dari pemerintah adalah satu-satunya air yang dinanti.
( Husaini Nappu )





























