Bongkarterkini.com, GOWA, 24 Mei 2026 – Gelombang aspirasi dan keprihatinan kini semakin menguat setelah para pegiat kepramukaan, tokoh kepemudaan, hingga masyarakat umum menyuarakan sikap tegas melalui gerakan moral bertajuk “CADIKA: Untuk Generasi Bangsa, Bukan untuk Dialihfungsikan!”, Sabtu (23/5). Gerakan kolektif ini secara terbuka mendesak pemerintah daerah agar meninjau kembali kebijakan yang dinilai berpotensi menghilangkan salah satu ruang pendidikan karakter paling bersejarah di Sulawesi Selatan tersebut.
Masyarakat dan para aktivis menegaskan bahwa aksi ini sama sekali tidak berniat menolak pembangunan maupun kemajuan sektor pendidikan di Kabupaten Gowa. Namun, mereka menggarisbawahi bahwa pembangunan fisik yang bertujuan mulia idealnya tidak dilakukan dengan mengorbankan aset bersejarah dan ruang pembinaan generasi muda yang telah menjadi pilar penting pendidikan karakter selama puluhan tahun. Karena itu, permohonan terbuka dilayangkan kepada Bupati Gowa dan seluruh pemangku kebijakan agar tetap mempertahankan fungsi utama Bumi Perkemahan (Buper) Cadika Limbung.
Penolakan keras salah satunya datang dari mantan Pengurus Pramuka sekaligus Sekretaris Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Takalar periode 2018–2022, Andi Gunawan. Ia menyatakan secara tegas ketidaksetujuannya terhadap rencana alih fungsi Buper Cadika Limbung yang kabarnya akan digunakan untuk pembangunan Sekolah Rakyat. Saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp pribadinya, Andi menilai kawasan tersebut memiliki nilai historis yang terlalu besar untuk dihapuskan dari peta perkembangan Gerakan Pramuka di Indonesia.
“Mesti dipahami sejarah berdirinya Cadika Gowa sebagai salah satu Cadika percontohan era 70-an di Indonesia dan mendapat bantuan dari pusat serta merupakan peninggalan Ayahanda H.M. Yasin Limpo sebagai tokoh Pramuka Indonesia dan Sulawesi Selatan,” ujar Andi Gunawan menekankan nilai historis situs tersebut.
Menurut Andi Gunawan, mengganti fungsi Cadika dengan kepentingan lain sama halnya dengan mengaburkan sejarah dan kurang menghargai warisan para tokoh pendahulu yang telah membangun tempat tersebut sebagai pusat pembinaan. Ia berharap pemerintah daerah dapat bersikap lebih bijak dengan mencari alternatif lahan lain demi kepentingan ekspansi fasilitas pendidikan tanpa harus meruntuhkan kawasan bersejarah yang menjadi simbol pembinaan generasi bangsa. “Kami sebagai anggota Pramuka keberatan. Solusinya mungkin bisa mencari lahan lainnya demi kepentingan daerah. Salam Pramuka, satu Pramuka untuk satu Indonesia,” tambahnya.
Secara filosofis, Bumi Perkemahan Cadika selama ini dikenal luas bukan sekadar sebagai area perkemahan biasa atau lahan kosong. Kawasan hijau tersebut telah lama bertransformasi menjadi ruang pembelajaran kehidupan terbuka yang efektif dalam membentuk kedisiplinan, tanggung jawab, solidaritas, kepemimpinan, hingga kecintaan mendalam terhadap alam dan lingkungan. Tempat ini juga menjadi saksi bisu perjalanan ribuan pemuda lintas generasi dalam menempa diri menjadi pribadi yang tangguh, mandiri, dan berintegritas.
Masyarakat lokal khawatir, hilangnya fungsi ruang terbuka seperti Cadika akan semakin mempersempit ruang positif bagi pembinaan generasi muda di tengah gempuran tantangan modernisasi dan dinamika sosial yang kian kompleks. Keberadaan Cadika dinilai mutlak harus dipertahankan sebagai warisan pendidikan karakter yang hidup (living heritage) serta simbol sejarah pembinaan kepemudaan bagi generasi masa depan di Sulawesi Selatan.
Di sisi lain, publik juga memahami bahwa rencana pemerintah daerah dalam menghadirkan infrastruktur pendidikan baru, seperti Sekolah Rakyat, didasari oleh niat baik untuk memperluas akses edukasi bagi masyarakat. Upaya peningkatan mutu dan fasilitas pendidikan formal memang menjadi salah satu prioritas pembangunan daerah yang krusial. Konflik pemanfaatan lahan ini pun kini berada pada titik temu yang sensitif antara urgensi modernisasi fasilitas pendidikan formal dan pentingnya pelestarian ruang pendidikan karakter non-formal.
Hingga saat ini, polemik terkait rencana alih fungsi Buper Cadika Limbung masih terus menggelinding menjadi perhatian publik dan memantik berbagai respons dinamis dari berbagai lapisan masyarakat maupun organisasi kepemudaan di daerah tersebut. Semua pihak kini menanti keputusan terbaik dari Pemerintah Kabupaten Gowa yang diharapkan mampu melahirkan solusi solutif; memajukan pendidikan formal tanpa harus menenggelamkan warisan sejarah kepramukaan. (Red)





























