Takalar sulsel, Bongkarterkini.com – Tragedi memilukan yang menewaskan dua bocah di area proyek pembangunan Sekolah Rakyat di Dusun Bontosunggu, Desa Pa’rappunganta, Kecamatan Polongbangkeng Utara, Kabupaten Takalar, kini memicu perhatian luas dari publik. Peristiwa ini melahirkan desakan kuat dari berbagai pihak agar aparat penegak hukum mengusut tuntas indikasi kelalaian dalam sistem pengelolaan dan pengamanan proyek tersebut. Investigasi mendalam diharapkan mampu mengungkap fakta di balik hilangnya nyawa dua anak di lokasi konstruksi yang berada di tengah lingkungan pemukiman warga.
Peristiwa naas ini bermula ketika kedua korban, Muhammad Alzaky (4) dan Muhammad Al Asril (5), ditemukan sudah tidak bernyawa dalam genangan air di bekas galian proyek pada Rabu (27/5/2026) malam sekitar pukul 18.30 WITA. Kedua anak yang diketahui masih memiliki hubungan keluarga dekat tersebut ditemukan mengambang di kolam galian yang diperkirakan memiliki kedalaman mencapai dua meter. Penemuan jasad korban seketika menyisakan duka mendalam bagi pihak keluarga serta mengejutkan warga sekitar yang tidak menduga adanya area berbahaya yang luput dari pengawasan.
Merespons kejadian tersebut, Satreskrim Polres Takalar bergerak cepat dengan langsung melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Pihak kepolisian juga mengumpulkan keterangan dari sejumlah saksi kunci, termasuk petugas keamanan proyek, petugas Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), serta pekerja yang pertama kali mengevakuasi korban dari lokasi kejadian. Selain melakukan tindakan hukum di lapangan, jajaran kepolisian telah mendatangi rumah duka untuk menyampaikan belasungkawa sekaligus terus mendalami penyebab pasti dari insiden maut ini.
Berdasarkan data yang dihimpun dari papan informasi di lokasi, proyek tersebut merupakan Pembangunan Sekolah Rakyat Provinsi Sulawesi Selatan 2 di Kabupaten Takalar. Proyek berskala besar ini berada di bawah naungan Kementerian Pekerjaan Umum melalui Direktorat Jenderal Prasarana Strategis, dengan pelaksana lapangan yang dipercayakan kepada PT Nindya Karya (Persero) KSO PT Bumi Perkasa Sidenreng. Status proyek yang dikerjakan oleh perusahaan BUMN berkolaborasi dengan swasta ini pun kini ikut menjadi sorotan tajam terkait penerapan standar mitigasi risiko di area kerja mereka.
Sorotan kritis salah satunya datang dari Ketua LSM Pemantik, Rahman Suandi Daeng Guling, yang menilai bahwa fokus penyelidikan kepolisian harus diarahkan pada dugaan kelalaian pihak pelaksana proyek dalam menerapkan sistem pengamanan. Rahman mempertanyakan fungsi pengawasan di lokasi, mengingat proyek tersebut memiliki petugas keamanan resmi namun anak-anak di bawah umur masih bisa mengakses area berbahaya tersebut. Ia mendesak kepolisian untuk mengusut tuntas unsur kelalaian dan meminta agar seluruh aktivitas proyek dihentikan sementara waktu sampai penyebab kejadian terungkap secara transparan.
Sejalan dengan pandangan tersebut, praktisi hukum Dr. Asrullah Syaharuddin menegaskan bahwa setiap proyek konstruksi wajib menerapkan standar keselamatan kerja yang ketat, terutama pada area galian dalam yang tergenang air. Menurutnya, lokasi proyek yang berdampingan langsung dengan pemukiman warga semestinya dilengkapi pagar pengaman yang kokoh, papan peringatan, serta pengawasan memadai. Asrullah menambahkan, apabila tim penyidik menemukan unsur kelalaian yang menyebabkan hilangnya nyawa orang lain, maka pihak yang bertanggung jawab dapat dijerat sanksi pidana sekaligus sanksi administratif, termasuk evaluasi hingga pencabutan kontrak proyek.
Hingga saat ini, pihak pelaksana proyek belum memberikan pernyataan resmi terkait insiden tersebut, sementara Satreskrim Polres Takalar masih terus melakukan penyelidikan intensif untuk mengurai simpul perkara. Polisi terus mengumpulkan bukti-bukti otentik guna mengungkap secara menyeluruh kronologi meninggalnya kedua bocah, sekaligus memastikan ada atau tidaknya pelanggaran SOP keselamatan yang berujung pada tragedi kemanusiaan ini.
(Red/tim)






























