Bongkarterkini.com, NTT – Semangat membara ditunjukkan oleh ratusan siswa SMA se-Kabupaten Manggarai Timur dalam ajang Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS3N) serta Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) tingkat kabupaten. Meski rintik hujan membasahi lokasi kegiatan, atmosfer kompetisi tetap terasa hangat dengan kehadiran perwakilan dari 47 SMA yang berlaga di 12 cabang lomba berbeda. Momentum ini tidak hanya menjadi ajang adu bakat, tetapi juga mencetak sejarah baru dalam standar penilaian seni di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Salah satu daya tarik utama dalam perhelatan tahun ini adalah cabang lomba tari berpasangan yang menghadirkan komposisi dewan juri kelas wahid. Panitia mendatangkan langsung Ketua DPD Asosiasi Seniman Tari (Aseti) NTT, Andi Tenri Lebbi, bersama Yuliana Rosaliani Purnamawati, serta didampingi oleh Ketua DPC Aseti Kabupaten Manggarai Timur, Yohanes Berto Menti. Kehadiran para pakar ini memberikan warna baru dalam proses kurasi karya seni tari di tingkat pelajar.
Fenomena menarik terjadi saat sesi penjurian berlangsung, di mana para juri tidak sekadar memberikan angka, melainkan melakukan bedah karya secara mendalam. Hal ini diakui sebagai peristiwa pertama yang terjadi di NTT, di mana dewan juri bersedia memberikan masukan teknis dan estetis secara langsung kepada para peserta dan pembina. Pendekatan edukatif ini memicu respons positif yang luar biasa dari para pendamping sekolah yang merasa selama ini “berjalan dalam gelap” tanpa evaluasi yang jelas.
Seorang guru pembina tari mengungkapkan kepuasan mendalam atas transparansi dan edukasi yang diberikan tim juri. “Baru kali ini terjadi dewan juri memberikan masukan yang sangat luar biasa. Kami benar-benar belajar karena juri mengupas tuntas penampilan peserta agar kami tidak mengulang kesalahan yang sama di tahun depan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa selama ini juri biasanya hanya memberi nilai tanpa penjelasan, sehingga sekolah kerap terjebak dalam pola kesalahan serupa setiap tahunnya yang menghambat perkembangan seni tari di daerah.
Kepuasan peserta ini menjadi bukti bahwa kualitas sebuah kompetisi tidak hanya ditentukan oleh siapa yang menang, tetapi oleh transformasi ilmu yang terjadi di dalamnya. Para pendamping merasa lebih dihargai dan termotivasi untuk memperbaiki teknik koreografi serta penghayatan siswa setelah memahami titik kelemahan mereka melalui perspektif profesional. Hal ini dinilai sebagai langkah besar untuk memutus rantai stagnasi prestasi seni tari di Kabupaten Manggarai Timur.
Di sisi lain, Ketua Dewan Juri, Andi Tenri Lebbi, menyampaikan bahwa potensi anak-anak Manggarai Timur sangatlah besar jika dipoles dengan cara yang benar. Beliau menekankan bahwa ajang ini seharusnya menjadi batu loncatan menuju prestasi yang lebih tinggi. “Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti sampai di sini saja. Target kita adalah melihat anak-anak ini mampu bersaing di tingkat nasional mewakili NTT dengan kualitas yang mumpuni,” tegas Andi saat ditemui di sela-sela perlombaan.
Sebagai langkah konkret ke depan, tim juri juga menyarankan agar pihak sekolah lebih proaktif dalam membekali diri sebelum kompetisi dimulai. Harapannya, pemerintah daerah atau pihak sekolah dapat menyelenggarakan workshop tari secara intensif agar persiapan siswa lebih matang. Dengan kolaborasi antara talenta siswa, bimbingan guru yang terarah, dan penilaian juri yang objektif, Manggarai Timur optimistis dapat melahirkan seniman-seniman muda berbakat yang siap mengharumkan nama NTT di kancah nasional. (*)






























