instagram youtube
logo

Silfester, Potret Jokowisme Mixed Political Art

BONGKAR TERKINI

- Redaksi

Rabu, 9 Juli 2025 - 01:53 WIB

5097 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Sri Radjasa, M.BA (Pemerhati Intelijen)

NAMA Silfester Matutina oleh sebagian orang dikatakan sebagai relawan Jokowi tegak lurus. Artinya Silfester selalu berdiri paling depan untuk membela kepentingan Jokowi dan keluarganya. Tidak salah jika silfester dijuluki algojo Jokowi, siap menghadang lawan-lawan Jokowi.

Gaya Silfester saat tampil dalam beberapa debat public di media sosial selalu diselingi oleh jurus ngamuk ala preman. Hal ini justru semakin memperkuat anggapan public, bahwa Silfester mengalami cacat intelektual. Fenomena politik relawan yang kental dipengaruhi oleh jokowisme yang disebut mixed political art, yaitu pragmatism politik yang dikombinasi dengan kebohongan, kekerasan, pembunuhan karakter dan penggunaan instrumen hukum serta menghalalkan segala cara.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Silfester adalah sosok relawan dengan keterbatasan pengetahuan maupun wawasan, cenderung menerapkan mixed political art, dengan menggabungkan politik praktis, kekerasan dan pembunuhan karakter. Contoh pernyataan Silfester yang menyerang Mayjen (Purn) Soenarko adalah bentuk mixed political art yang menggabungkan antara politik dengan pembunuhan karakter dan kekerasan. Sementara Silfester sama sekali tidak memiliki pengetahuan yang mendukung pernyataannya. Oleh sebab itu, sikap Silfester cenderung sebagai bentuk ujaran kebencian dan unjuk kekuatan sebagai jagoan.

Upaya membandingkan antara Silfester dengan Soenarko tentunya merupakan tindakan yang tidak fair. Jika merujuk pada filsafat etika, membanding harus antara buruk dengan sesuatu yang buruk atau sebaliknya, tidak bisa antara buruk dengan baik, seperti antara Silfester dengan Soenarko.

Sosok silfester adalah warga negara yang dalam hidupnya hanya menghamba kepada Jokowi, tanpa pernah memiliki sumbangsih untuk bangsa dan negara. Sementara Mayjen (Purn) Soenarko, tidak dapat diragukan sumbangsihnya bagi bangsa dan negara. Soenarko adalah warga negara yang terbukti mengutamakan tugas demi bangsa diatas kepentingan pribadinya, hal ini dibuktikan ketika kelahiran ketiga anaknya, tidak satupun didampingi sunarko yang saat itu sedang melaksanakan tugas tempur di wilayah operasi.

Soenarko adalah sosok prajurit yang bukan kaleng-kaleng, selama bertugas di TNI, dia memiliki karir cemerlang dibanding teman seangkatannya. Ketika Soenarko telah menduduki dua kali jabatan bintang dua, masih banyak teman-temannya yang berpangkat kolonel. Karirnya di militer dengan segudang operasi tempur yang dijalaninya, jauh melampaui karir militer luhut yang minim pengalaman sebagai komandan dan minim pengalaman operasi tempur. Ekspektasi Soenarko di militer tidak muluk-muluk, berharap meraih pangkat letkol dan komandan batalyon. Tetapi nasib membawanya menjadikan Mayor Jenderal.

Tentunya menjadi janggal ketika Silfester mengatakan Soenarko mengemis jabatan kepada Luhut yang notabene karirnya di militer tidak secemerlang Soenarko. Apalagi kemudian Silfester mengatakan Soeenarko kecewa dan bertindak melawan pemerintah. Sementara bagi Soenarko memperoleh pangkat Mayor Jenderal adalah anugrah Allah yang jauh melebihi ekspektasinya, sehingga bagi soenarko kehilangan pangkat dan jabatan demi rakyat, adalah sebuah tindakan semudah membalik telapak tangan. Tidak berlebihan jika di dalam nadi Soenarko mengalir darah ksatria, berani melawan arus kekuasaan zalim, karena hanya tinja, bangkai dan relawan yang mengikuti arus.

Berita Terkait

Menanti Hujan di Laikang: Saat Retakan Tanah Takalar Menjadi Ujian Kepedulian Negara
Skandal Kacabdin Aceh Selatan, Integritas Pemerintah Aceh Dipertaruhkan
Koruptor Menggurita, Kejahatan Sistemik Ala Kapitalis
Indonesia dalam Keadaan Darurat Teror
Kolonel Purnawirawan Intel yang Tak Lagi Diam
Sinetron Peradilan Tom Lembong dan Kisah Publik Enemy
#Jokowi Time is Over
Ketika Rakyat Minta Jokowi Dimakar

Berita Terkait

Selasa, 26 Mei 2026 - 06:52 WIB

Takalar Bersinar di Tingkat Nasional, Disdikbud Raih Penghargaan Bergengsi Hardiknas 2026 

Senin, 25 Mei 2026 - 14:26 WIB

Pemerintah Kecamatan Laikang Pacu Realisasi PBB 2026 Lewat Pendekatan Humanis

Senin, 25 Mei 2026 - 12:54 WIB

Audiensi di Komdigi, Bupati Takalar Dorong Program 112, Desa Digital dan Peningkatan Akses Internet

Senin, 25 Mei 2026 - 07:37 WIB

Gerakan Moral “CADIKA” Menggema: Desak Penyelamatan Ruang Karakter Generasi Bangsa di Gowa

Minggu, 24 Mei 2026 - 14:13 WIB

Mencetak Generasi Qurani, 477 Santri BKPRMI Takalar Resmi Wisuda di Pantai Topejawa

Minggu, 24 Mei 2026 - 13:22 WIB

Sinergi Lintas Sektor: Aksi Resik Pulau Sanrobengi Demi Masa Depan Wisata Bahari Takalar

Minggu, 24 Mei 2026 - 09:46 WIB

Wakil Bupati Takalar, Hengky Yasin, secara resmi membuka Webinar Nasional bertajuk “Qurban Syar’i Dan Sehat”

Sabtu, 23 Mei 2026 - 14:38 WIB

Dody Riyan Saputra Tegaskan Komitmen Majukan Pendidikan dan Budaya di Takalar

Berita Terbaru