Aceh Singkil – Gelombang desakan untuk mengevaluasi bahkan mencopot Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Aceh Singkil kian tak terbendung. Aliansi Muda Penggerak Aceh Singkil (AMPAS) menuding dinas tersebut mandek, gagal membaca peluang, dan membiarkan potensi wisata daerah yang kaya terbengkalai. Akibatnya, Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor ini terus seret.
“Kami tidak melihat ada terobosan maupun program konkret dari Disparpora untuk mengangkat pariwisata Aceh Singkil. Padahal, sektor ini strategis untuk menggerakkan ekonomi masyarakat dan mengisi kas daerah,” tegas Rahman Syafi’i SH, Juru Bicara AMPAS, Selasa, 5 Agustus 2025.
Aceh Singkil, menurut Rahman, punya modal alam yang luar biasa: Kepulauan Banyak, Pantai Cemara Indah, hingga gugusan pantai yang eksotis namun jarang tersentuh promosi. “Potensi emas ini dibiarkan terpendam. Sementara daerah lain sudah berlari, kita justru jalan di tempat,” katanya.
Desakan AMPAS ini makin tajam setelah Bupati Aceh Singkil sebelumnya mengeluarkan pernyataan publik yang menohok. Ia mengingatkan, pejabat yang tidak mampu bekerja dan tidak memberi kontribusi nyata bagi kemajuan daerah sebaiknya segera mundur.
Bagi AMPAS, ucapan itu adalah janji yang menuntut pembuktian. “Kalau Bupati serius, ini waktu yang tepat untuk menunjukkan komitmen. Jangan biarkan kursi strategis diisi orang yang tidak mampu menggerakkan sektor penting,” ujar Rahman.
Pihak Disparpora membela diri. Kepala dinas menjelaskan bahwa target PAD sektor pariwisata pada 2022 sebesar Rp365 juta hanya tercapai sekitar Rp65 juta karena ia baru menjabat di pertengahan tahun. Tahun 2023, target yang sama kembali dipatok, namun hasilnya tetap rendah. Upaya perbaikan, katanya, baru dilakukan di akhir 2023 dengan mencari penyewa baru di objek wisata.
“Alhamdulillah, tahun 2024 ada peningkatan menjadi sekitar Rp200 juta. Itu menunjukkan ada perbaikan,” ujarnya. Ia menekankan bahwa lonjakan PAD pariwisata tidak bisa dicapai sendirian. Diperlukan dukungan infrastruktur, transportasi, dan kebijakan daerah. “Tanpa ini, peningkatan akan lama,” tambahnya.
Namun, bagi AMPAS, capaian tersebut masih jauh dari harapan. Minimnya gebrakan, lemahnya inovasi, dan tidak adanya strategi promosi yang agresif menjadi alasan kuat untuk mengevaluasi pimpinan Disparpora. “Penyegaran di sektor pariwisata itu mendesak. Kita tidak bisa terus membiarkan potensi besar hanya jadi cerita,” kata Rahman.
Kini, sorotan publik tertuju pada Bupati Aceh Singkil. Apakah peringatan keras yang pernah ia lontarkan akan diwujudkan dalam tindakan nyata, atau kembali menguap tanpa jejak di tengah lesunya geliat pariwisata daerah. (SP)






























