Aceh Singkil – Di Aceh Singkil, riak kecil di media sosial bertransformasi menjadi percakapan panas yang menyedot perhatian publik. Sabtu, 9 Agustus 2025, akun Facebook milik Ramli Manik memuat sebuah kritik pedas yang langsung menampar nama Zulkarnain, sosok yang belakangan kerap terlihat berada di lingkaran kekuasaan pasangan Bupati-Wakil Bupati Oyon-Hamzah. Dalam tulisannya, Ramli menuding Zulkarnain berubah sikap sejak duet itu resmi memimpin Aceh Singkil. Nada kritiknya menukik personal, mengungkit latar belakang Zulkarnain yang pernah menjadi peternak bebek, dan menyindir kepemilikan iPhone sebagai simbol kesombongan yang menurutnya kini melekat pada Zulkarnain.
Tak cukup sampai di situ, Ramli juga mengangkat kembali pernyataan Zulkarnain yang menuding orang-orang pembuat berita sebagai sekadar “mencari muka”. Menurut Ramli, ucapan itu tidak pantas keluar dari mulut seseorang yang kini dekat dengan lingkaran elite daerah. Ia mengingatkan agar Zulkarnain menengok masa lalu sebelum bersikap congkak. Kritik ini sontak jadi bola panas di kalangan wartawan, aktivis, dan tim pendukung Oyon-Hamzah, terutama karena sebagian menilai serangan itu bisa memantik gesekan di internal jaringan pendukung bupati.
Ramli kemudian melayangkan klarifikasi. Ia menegaskan, status yang dibuat oleh Zulkarnain di akun Facebook bernama “Zulkarnain Gaes” murni tanggung jawab pribadi, tanpa campur tangan atau restu dari Bupati dan Wakil Bupati. Ia mengaku perlu menyampaikan ini demi memastikan publik tidak mengaitkan isi status tersebut dengan kebijakan atau sikap resmi kepala daerah. “Kami ingin memastikan masyarakat dan wartawan tahu bahwa Zulkarnain yang bertanggung jawab atas konten yang dia buat,” ujar Ramli, menutup penjelasan yang justru kian menguatkan jarak antara dirinya dan Zulkarnain.
Tak ingin persoalan bergulir liar, wartawan mencoba menghubungi langsung Zulkarnain. Melalui pesan WhatsApp, ia membantah statusnya ditujukan khusus kepada Ramli. Menurutnya, pernyataan soal “oknum pembuat berita yang mencari perhatian” adalah peringatan umum terhadap berita yang dianggapnya tidak akurat dan orang-orang yang menunggangi informasi demi kepentingan pribadi. Ia mengaku sudah menyampaikan kegelisahan itu kepada pimpinan, berharap isu ini tak diseret ke ranah personal. “Saya ingin masyarakat paham maksud saya, bukan malah salah tafsir,” tulis Zulkarnain, yang menutup pesannya dengan ajakan agar perdebatan tidak merusak silaturahmi.
Meski kedua pihak sudah mengeluarkan klarifikasi, percikan api di dunia maya telanjur menyala. Di grup-grup WhatsApp wartawan dan aktivis, pernyataan Ramli dan Zulkarnain dipelintir, dikomentari, bahkan dijadikan bahan sindiran yang memancing tawa sekaligus geram. Publik terbelah—ada yang menilai Ramli terlalu frontal dan menyerang personal, ada pula yang menyebut Zulkarnain memang berubah sejak dekat dengan lingkar kekuasaan. Perdebatan ini semakin mengaburkan batas antara kritik politik, serangan pribadi, dan perang urat saraf di media sosial.
Fenomena ini menjadi cermin betapa rapuhnya hubungan di antara para pemain politik lokal, di mana persahabatan dan dukungan bisa retak hanya oleh sebuah status Facebook. Di tengah minimnya literasi digital, sentimen personal mudah sekali diangkat menjadi isu publik, apalagi bila diembuskan oleh tokoh yang punya pengaruh di kalangan tertentu. Aceh Singkil, yang baru saja menghirup udara pemerintahan baru, kini disuguhi drama internal yang, meski terlihat sepele, menyimpan potensi mengganggu soliditas kekuasaan. Dan semua bermula dari satu klik di kolom status.
[Redaksi; Team// Syahbudin Padank Fw FRN Fast Respon counter Polri Nusantara





























